Bagaimana Membangun Kesadaran Lingkungan dalam Keluarga

  • March 30, 2014

Meskipun dampak negatif lingkungan yang buruk, semakin hari semakin kita rasakan, seperti banjir, sampah dan polusi, namun perilaku masyarakat dalam menjaga alam belum banyak berubah. Orang masih buang sampah sembarangan, menggunakan plastik berlebihan dan mempersempit ketersediaan ruang hijau. 

Salah satu solusinya  adalah membangun kesadaran lingkungan mulai dari keluarga. Bagaimana caranya?

World Wild Life Fund (WWF), sebagai salah satu kampiun penggiat lingkungan, sudah melakukan berbagai kampanye di Indonesia. Lembaga ini sangat serius dan concern terhadap kondisi lingkungan global. Sadar pentingnya komunikasi, terutama di era media internet, WWF menjalin kerjasama erat dengan Blog Detik dalam menyebarkan pesan – pesan lingkungan.

Salah satu hal yang mungkin perlu dilihat oleh WWF dan Blog Detik dalam kampanye mereka adalah bagaimana membangun kesadaran lingkungan lewat peran keluarga.

Keluarga adalah komponen paling penting dalam kehidupan bermasyarakat. Segala sesuatu dimulai dari sana. Kerusakan dalam keluarga pasti berdampak pada kehidupan di masyarakat. Baik itu terhadap anak, orang tua maupun anggota keluarga lainnya.

Oleh karena itu, kampanye kesadaran lingkungan selayaknya dimulai dari keluarga. Anak – anak yang dididik sejak kecil oleh orang tuanya untuk membuang sampah pada tempatnya, pasti hasilnya lebih manjur daripada semua kampanye lingkungan yang datang dari luar.

Namun perlu strategi khusus untuk membangun kesadaran lingkungan dalam keluarga.

Di dalam keluarga terdapat beberapa pihak yang memiliki kepentingan berbeda – beda. Cara mendekati mereka harus berbeda disesuaikan dengan kepentingan mereka. Dengan begitu, hasilnya bisa lebih optimal karena pendekatan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan.

Di keluarga, ada tiga pihak, yaitu Orang Tua, Asisten Rumah Tangga dan Anak. Masing – masing membutuhkan cara kampanye dengan metode dan pesan yang berbeda – beda.

Kampanye Lingkungan #1: Orang Tua

Orang tua, lengkap atau single parent, adalah pemegang otoritas tertinggi di rumah. Mereka yang mengarahkan biduk rumah tangga. Semua anggota di rumah patuh pada komando orang tua.

Kesadaran lingkungan, paling utama dan pertama, harus dibangun dari orang tua. Mereka harus disadarkan dulu mengenai pentingnya lingkungan sehat dan bagaimana mewujudkannya dalam kehidupan keluarga.

Karena posisi yang sentral dan punya otoritas di keluarga, jika orang tua sudah paham dan sadar, akan lebih mudah mengedukasi penghuni rumah yang lain. Like father, like son.

Berdasarkan pengalaman pribadi dan observasi terhadap keluarga lain,  saya menilai kampanye yang sifatnya himbauan kurang efektif.  Himbaungan itu didengar, dimengerti, diamini namun tidak dilaksanakan oleh para orang tua di rumah.

Ambil contoh sampah plastik. Kita semua menyaksikan di TV dan mendengar di radio soal efek buruk plastik. Bahkan seringkali merasakannya langsung, plastik menyumbat saluran air yang kemudian berakibat fatal, menimbulkan kebanjiran atau kerusakan lingkungan lainnya.

Namun, perilaku menggunakan dan mengolah sampah plastik di rumah tidak pernah berubah. Tetap saja, plastik digunakan secara berlebihan dan tidak dipisahkan dari sampah – sampah yang lain supaya bisa di recycle atau reuse. Ketika ditanya, orang tua rata – rata menjawab tidak praktis dan ribet, jika harus memisahkan sampah plastik dari yang sampah lainnya.

Bagaimana cara kampanye yang paling efektif?

Ketika merancang kampanye, kita harus pahami dulu apa perhatian orang tua. Apa concern mereka.

Menurut saya, concern mayoritas orang tua adalah keuangan keluarga. Bagaimana memastikan punya keuangan yang sehat, uang yang cukup, sehingga kebutuhan pendidikan anak, kesehatan dan rekreasi, bisa terpenuhi.

Nah, kampanye lingkungan harus menyentuh hal tersebut. Bagaimana menunjukkan pada para orang tua bahwa lingkungan yang sehat sangat bisa mewujudkan keuangan yang sehat. Atau dengan kata lain, memperbaiki lingkungan membantu memperbaiki kondisi keuangan Anda.

Ada banyak contoh bagaimana perbaikan lingkungan menghemat pengeluaran rumah tangga. Misalnya sebagai berikut:

  • Menggunakan lampu jenis TL. Ini lampu hemat energi. Meskipun harga lampu TL lebih mahal, kedepannya listrik yang dihemat jauh lebih besar, sehingga secara keseluruhan keluarga bisa mengurangi tagihan listrik. Menurut perhitungan sebuah tabloid ekonomi terkemuka, penghematan tagihan yang bisa dinikmati setiap bulan mencapai Rp 50 rib sd Rp 200 rb (untuk daya 2,200 watt). Penghematan yang cukup signifikan.
  • Menggunakan cloth diaper.Ini pampers bayi berbahan dasar kain. Karena bahannya kain, pampers ini dapat dicuci, sehingga bisa digunakan berulang – ulang. Harga pembelian cloth diaper memang lebih mahal dari diaper disposable. Namun, karena pemakaian yang berulang – ulang tersebut, penghematan cukup signifikan datang dari tidak perlu membeli lagi disposable pamper secara rutin.
  • Menggunakan Air Susu Ibu (ASI). Lho, kok ASI? Iya, selain sehat, menyusui ASI menghemat pengeluaran keluarga. Tidak perlu mengeluarkan dana untuk membeli susu formula yang harganya tidak murah. Prita Ghozie, seorang perencana keuangan, pernah membeberkan fakta bahwa pemberian ASI kepada bayinya berhasil menghemat pengeluaran sampai Rp 30 juta (wow!!). Fakta ini disampaikan dalam buku terbarunya yang berjudul “Make it Happen”.

Menurut saya, fakta keuangan ini adalah pesan yang kuat yang akan menempel rekat di benak para orang tua. Jika yang disentuh adalah kantongnya, saya yakin bapak atau ibu, atau keduanya, pasti tidak hanya aware, tetapi lebih dari itu, mau melaksanakan kampanye lingkungan sehat. Dampak dan ukurannya jelas buat mereka, rupiah yang terselamatkan.

Kampanye Lingkungan #2: Asisten Rumah Tangga

Kenapa Asisten Rumah Tangga (ART) penting dalam kampanye lingkungan? Apa peran mereka?

Mayoritas orang tua di kota besar, seperti Jakarta dan Surabaya, menghabiskan sebagian waktunya di luar rumah. Berangkat kerja di pagi hari, pulang petang atau bahkan malam. Aktivitas di rumah menjadi dikelola oleh ART, termasuk hal – hal yang berhubungan dengan lingkungan.

Contohnya, yang membuang sampah dan memisahkan plastik serta non-plastik di rumah adalah ART. Jarang sekali kegiatan ini dilakukan oleh para orang tua. Para ART inilah yang punya kuasa.

Saya pernah meminta ART di rumah untuk memisahkan sampah plastik dan non – plastik. Karena tidak sempat mengawasi, saya baru sadar bahwa ART tidak melakukan pemisahan sampah tersebut. Saat ditanya alasan tidak melakukannya, ART menjawab “untuk apa dipisahkan, karena nanti kan ada pemulung yang akan melakukannya”.

Jawaban ini refleksi kurangnya pemahaman ART soal pengelolaan lingkungan. Namun, saya kemudian maklum bahwa selama ini, saya hanya memberi perintah, tanpa pernah menjelaskan kepada mereka, kenapa pemisahan sampah plastik itu penting.

Oleh sebab itu, kampanye lingkungan harus bisa menyampaikan pesan sampai ke ART. Mereka harus diberdayakan, dibuat paham mengenai pentingnya lingkungan hidup. Jangan menganggap posisi ART tidak penting dalam keluarga. Mereka sangat penting, terutama dalam operasional rumah tangga.

Masalahnya, jarang saya melihat, kampanye lingkungan yang menyasar ART. Fokusnya adalah pada orang tua dan anak – anak. Padahal, seperti contoh saya sebelumnya, ART adalah eksekutor di rumah. Percuma punya ide, paham, namun eksekusinya gagal.

Kampanye Lingkungan #3: Anak – Anak

Secara teori, membangun kesadaran kepada anak – anak paling mudah, karena mereka masih ‘hijau’, ‘kertas putih’, belum banyak dipengaruhi oleh pihak – pihak lain. Namun, kenyataannya, banyak orang tua merasa gagal membangun kesadaran lingkungan kepada anak – anak mereka.

Kenapa hal itu terjadi?

Pertama, pendidikan tidak dimulai dari rumah, orang tua menyerahkan tanggung jawab kepada sekolah, pemerintah atau penggiat lingkungan. Orang tua berasumsi bahwa pendidikan lingkungan bukan tanggung jawab mereka karena ada pihak eksternal yang lebih mumpuni melaksanakannya.

Padahal, pendidikan lingkungan harus dimulai oleh orang tua dari rumah. Orang tua adalah pendidik yang paling efektif. Orang tua punya otoritas, termasuk dalam memberikan pendidikan lingkungan yang sehat. Anak pasti lebih mendengar orang tuanya dibandingkan orang lain.

Kedua, pendidikan dimulai secara terlambat, tidak sejak anak kecil. Pemahaman soal lingkungan baru diperkenalkan ketika anak beranjak dewasa karena dianggap mereka akan lebih mudah mengerti.

Ini cara yang kurang tepat. Semakin besar anak, semakin banyak pengaruh luar hadir mempengaruhinya. Mulai dari pengaruh teman, sekolah sampai media massa. Pendidikan orang tua akan bersaing dengan pengaruh – pengaruh ini yang tidak semuanya punya pesan positif soal lingkungan.

Jika dimulai sejak dini, masih sedikit pengaruhi eksternal, anak akan lebih mudah ditanamkan ide – ide baru. Tugas orang tua mendidik anak soal lingkungan menjadi lebih mudah.

Ketiga, yang paling penting dan sering menjadi penyebab kegagalan, adalah orang tua hanya berceramah tanpa beraksi. No Action Talk Only. Ini contoh yang sangat buruk.

Ketika tindakan dan omongan tidak sejalan, otoritas orang tua dimata anak – anak menyusut. Anak – anak menjadi enggan menjalankan hal – hal yang diperintahkan orang tua. Perlu paksaan untuk membuat anak melakukannya.

Akan tetapi, sebaliknya, tindakan tanpa ceramah, justru lebih efektif. Anak – anak bisa langsung melihat orang tuanya melakukan sesuatu. Tanpa disuruh, anak pasti akan mengikuti perilaku orang tuanya.

Demikian uraian soal cara membangun kampanye lingkungan dalam keluarga. Uraian ini bisa menjadi masukkan bagi para pengambil keputusan, masyarakat dan penggiat lingkungan, seperti WWF dan Blog Detik, ketika menyusun rencana tindakan dan langkah aksi mengenai penyelamatan lingkungan kita bersama.

Artikel lain soal Keuangan:

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Ikuti berita terbaru Duwitmu.com!