6 Resiko Investasi Reksadana dan Bagaimana Cara Mengatasinya

  • April 16, 2018

Sebelum memulai, saya sarankan Anda pahami resiko investasi Reksadana. Selain keuntungan investasi reksadana, kita perlu tahu apa kelemahannya dan bagaimana cara mengelola resiko tersebut.

Dalam banyak tulisan di blog, saya mempromosikan manfaat Reksadana sebagai instrumen investasi terbaik.

Namun, saya tahu investasi pasti punya resiko. Karena itu, saya pikir perlu membahas keuntungan dan kerugian Reksadana bagi investor.

Tidak hanya membahas keuntungan reksadana per bulan, bagaimana perhitungan keuntungan reksadana, tetapi juga mengingatkan pembaca soal resiko dan kelemahannya. Resiko dan potensi kerugian yang perlu dimengerti dan disadari secara jelas sejak awal.

Resiko adalah sesuatu yang melekat dalam investasi. Tidak mungkin investasi tanpa resiko.

Tujuan mengetahui resiko tersebut bukan untuk menakut-nakuti, menimbulkan rasa khawatir, tetapi bagaimana kita bisa mengelolanya agar hasil investasi optimal.

Ada pepatah bilang, tak kenal maka tak sayang.

Dengan paham resiko tersebut, Anda bisa pula membandingkan dengan kelebihan dan kekurangan emas atau instrumen lainnya.

Resiko Investasi Reksadana

Tugas investor adalah memahami apa resiko investasi Reksadana dan bagaimana mengelolanya supaya dampak negatif bisa diminimalkan.

#1 Return Reksadana Tidak Pasti

Banyak yang menganggap Reksadana itu sama dengan Tabungan atau Deposito.

Itu pemahaman yang salah. 100 persen salah karena kedua instrumen ini sangat berbeda.

Resiko Reksadana lebih tinggi. Keuntungannya tidak pasti.

Return Reksadana tidak pasti. Bisa untung, bisa rugi.

Untuk menghadapi ketidakpastian ini, pemodal yang ingin membeli Reksadana bisa melakukan hal sebagai berikut:

  • Memilih Reksadana yang tepat karena terdapat berbagai jenis Reksadana yang memiliki tingkat resiko berbeda – beda. Ketepatan pemilihan yang sesuai dengan tujuan keuangan jadi kunci keberhasilan rencana investasi
  • Melakukan diversifikasi. Tidak menaruh semua uangnya di satu tempat, tetapi menyebarkannya ke banyak instrumen, supaya jika yang satu rugi, masih ada yang lain.

#2 Tidak Ada Jaminan Pemerintah

Jika Reksadana rugi, maka kerugian tersebut harus ditanggung oleh nasabah. Tidak ada perlindungan dari pemerintah.

Ini berbeda dengan tabungan dan deposito yang dijamin oleh pemerintah. Sehingga menaruh uang di tabungan tidak akan mungkin berkurang nilainya.

Karena itu, dengan resiko ke-dua ini, kembali lagi ke poin #1 diatas, investor perlu memilih jenis reksadana yang tepat dan melakukan diversifikasi investasi.

#3 Tidak Ada Proteksi Jiwa

Bagaimana jika pencari nafkah kena musibah sehingga tidak bisa melanjutkan investasi di Reksadana ?

Investasi stop. Tidak ada pihak lain yang mengggantikan dan melanjutkannya.

Reksadana tidak memiliki proteksi asuransi karena ia murni investasi.

Ini sebuah resiko.

Namun bisa dikelola dengan membeli asuransi jiwa sebagai proteksi. Jika investor kena musibah, masih ada uang dari asuransi untuk melanjutkan investasi.

Apa asuransi yang perlu dibeli ? Kami merekomendasikan Asuransi Jiwa Term-Life karena preminya murah dan nilai proteksinya besar.

Untuk asuransi yang digabung dengan investasi, asuransi unit link, perlu diteliti dengan cermat, apakah itu cocok.

#4 Harus Inisiatif Sendiri

Investasi di Reksadana membutuhkan kedisplinan dalam menabung karena tidak ada pihak yang mengingatkan investor. Jika lupa, investor kehilangan momentum.

Berbeda dengan asuransi yang nasabah harus membayar premi secara rutin. Di Reksadana tidak ada kewajiban membayar secara rutin.

Tapi, kealpaan di Reksadana bisa diatasi dengan bantuan program ‘Auto-Invest’. Ini adalah program investasi Reksadana yang diset secara otomatis setiap bulan, sehingga setiap bulan uang Anda di tabungan secara otomatis akan dipotong untuk diinvestasikan ke Reksadana yang sudah dipilih.

Jadi, pemodal tidak perlu khawatir lagi akan lupa berinvestasi karena sistem secara otomatis memotong rekening investor dalam jumlah yang telah ditentukan untuk ditempatkan dalam Reksadana.

#5 Reksadana Bisa Dibubarkan

Ada sejumlah kondisi dimana Reksadana dibubarkan sebagai berikut:

  • Diperintahkan oleh OJK sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
  • Nilai Aktiva Bersih Reksadana menjadi kurang dari nilai Rp 25.000.000.000,- (dua puluh lima miliar Rupiah) selama 90 (sembilan puluh) Hari Bursa berturut-turut, Manajer Investasi akan melakukan pembubaran dan likuidasi.

Bagaimana menghadapi resiko ini ?

Dari ketentuan ini, kita lihat bahwa kinerja yang buruk akan berujung pada pembubaran Reksadana. Oleh sebab itu, investor perlu memilih Reksadana yang kinerjanya baik.

Investor perlu melihat daftar list reksadana dengan menganalisa data nilai aktiva bersih.

Perhitungan nilai aktiva bersih reksadana menunjukkan seberapa besar jumlah uang dalam reksadana yang dikelola oleh Manajer Investasi. Semakin besar menunjukkan semakin kuat Reksdana tersebut.

Niscaya, jika kinerjanya bagus, Reksadana tidak mungkin akan dibubarkan. Itu kuncinya.

#6 Pencairan Bisa Tidak Dilakukan

Secara normal, pencairan Reksadana dilakukan dalam 3 hari. Jadi, jika investor mencairkan hari ini maka T+3 uangnya sudah masuk ke rekening nasabah.

Itu normalnya. Apakah bisa tidak masuk dalam 3 hari ?

Bisa. Ada resiko tersebut.

Ada resiko likuiditas.Penjualan Kembali (pelunasan) tergantung kepada likuiditas dari portofolio atau kemampuan dari Manajer Investasi untuk membeli kembali (melunasi) dengan menyediakan uang tunai.

Risiko likuiditas dapat timbul jika pada saat yang bersamaan, semua investor melakukan penjualan Reksadana dan Manajer Investasi gagal menyediakan dana.

Untuk mengatasi ini, kita perlu melihat kekuatan Manajer Investasi. Salah satunya melihat berapa besar dana kelolaan atau AUM Manajer Investasi.

AUM adalah asset bersih yang dikelola Manajer Investasi. Nilai AUM bisa dilihat, salah satunya, di Bareksa data reksadana

Dana kelolaan mencerminkan kepercayaan investor terhadap Manajer Investasi. Makin besar makin baik.

Kesimpulan

Reksadana memang menawarkan return yang lebih tinggi dibandingkan tabungan dan deposito. Namun, ada sejumlah resiko investasi Reksadana.

Kewajiban kita sebagai investor memahami resiko tersebut dan mencari solusi untuk mengelola resiko tersebut. Bukannya malah menghindari atau khawatir setelah tahu akan hal tersebut.

Semoga mencerahkan !

Leave a Reply

Your email address will not be published.