Reksadana vs DPLK, Mana yang Terbaik untuk Dana Pensiun

  • November 26, 2015

Reksadana dan DPLK bisa digunakan untuk menyiapkan dana pensiun. Mana yang terbaik?

Belum lama ini, saya terima pertanyaan dari pengunjung blog. Dia sedang gundah menjelang masa pensiunnya yang tinggal hitungan bulan.

Saya sudah lama ikut dana pensiun DPLK dari kantor. Iuran langsung dipotong dari gaji setiap bulan. Tapi, saya hitung hasil investasi di DPLK tampaknya tidak akan cukup untuk pensiun. Apa yang harus saya lakukan ? Bagaimana dengan Reksadana, apakah itu aman dan bisa jadi pengganti ?

Agak ironis sebenarnya, karena menjelang pensiun seharusnya dihadapi dengan senang.

Namun, yang terjadi sebaliknya, muncul perasaaan khawatir, gundah, akan masa depan keuangan beliau.

Ini masalah klasik. Kerap dihadapi banyak karyawan di ujung masa kerjanya.

Tidak peduli  tingkat income atau jabatan. Mau gaji besar, gaji kecil, bawahan atau atasan, muncul perasaan khawatir saat mendekati masa pensiun.

Cukup tidak uang pensiun saya ?

Karyawan sudah bekerja dan berasumsi bahwa potongan iuran tiap bulan akan cukup.

Jawabannya, tergantung. Tergantung bagaimana Anda mengelola dana pensiun selama ini.

Ada dua pilihan cara mempersiapkan pensiun, yaitu DPLK dan Reksadana. Masing – masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Mari kita lihat bagaimana cara kerja keduanya. Supaya dari situ, Anda bisa memilih mana yang paling cocok dengan kondisi Anda.

DPLK

DPLK adalah singkatan dari Dana Pensiun Lembaga Keuangan.

Sesuai Undang – Undang, “Dana Pensiun Lembaga Keuangan adalah Dana Pensiun yang dibentuk oleh bank atau perusahaan asuransi jiwa untuk menyelenggarakan Program Pensiun Iuran Pasti bagi perorangan, baik karyawan maupun pekerja mandiri yang terpisah dari Dana Pensiun pemberi kerja bagi karyawan bank atau perusahaan asuransi jiwa yang bersangkutan”.

DPLK Dana Pensiun

Ciri khas DPLK adalah program pensiun yang iurannya ditetapkan dalam peraturan Dana Pensiun dan seluruh iuran serta hasil pengembangannya dibukukan pada rekening masing-masing peserta sebagai manfaat pensiun.

Dalam prakteknya, perusahaan mengikutsertakan karyawan ke dalam salah satu DPLK.

Mekanismenya sebagai berikut:

  • Perusahaan memotong gaji kayawan setiap bulan berdasarkan prosentase tertentu yang kemudian dibayarkan sebagai iuran pensiun ke DPLK.
  • DPLK mengelola dan menginvestasikan iuran tersebut ke instrumen yang dipilih perusahaan.
  • Saat pensiun, karyawan menerima pembayaran dari DPLK. Ada dua pilihan pembayaran, yaitu lump-sum (dibayar sekaligus) atau dibayar bertahap seumur hidup (disebut annuitas).

Dalam DPLK, iuran pensiun bersumber dari: (1) potongan gaji karyawan dan (2) kontribusi perusahaan. Jadi perusahaan ikut menambahkan iuran pensiun.

Porsi perusahaan biasanya lebih tinggi dibandingkan karyawan. Sehingga ini merupakan manfaat tambahan di luar gaji.

Jika karyawan mengundurkan diri, uang pensiun bisa diambil atau dipindahkan ke DPLK lain. Intinya, dana di DPLK adalah milik karyawan.

Reksadana

Blog ini membahas secara lengkap mengenai instrumen satu ini. Bahasan lengkapnya bisa dibaca di Panduan Investasi Reksadana.

Singkatnya, Reksadana adalah instrumen investasi dimana Anda bisa menempatkan uang disini yang akan dikelola oleh Manajer Investasi.

Manajer investasi adalah professional yang mengelola dana agar menghasilkan keuntungan (return) terbaik dengan risiko terukur.

Reksadana IPOTFUND

Data menunjukkan bahwa Reksadana adalah jenis investasi yang menguntungkan yang direkomendasikan oleh banyak perencana keuangan untuk mewujudkan dana pensiun.

Reksadana vs DPLK

Perbandingan kedua instrumen ini perlu dilihat dalam beberapa aspek.

#1 Kecukupan Dana untuk Pensiun

Pertanyaan penting dalam persiapan pensiun adalah “apakah dana yang dikumpukan dan diinvestasikan akan cukup untuk hidup selama masa pensiun”.

Dalam hal ini, DPLK tidak sebaik Reksadana. Kenapa ?

Kita bahas dulu bagaimana cara supaya dana pensiun itu mencukupi.

Akumulasi dana pensiun ditentukan oleh besar kecilnya iuran. Untuk menentukan jumlah iuran yang tepat (supaya dananya cukup), perlu diestimasi dulu berapa biaya hidup saat pensiun nanti. Lalu, berdasarkan hitungan tersebut dikalkulasi ulang besarnya jumlah iuran untuk mencapai jumlah biaya hidup tersebut.

Jadi, penentuan jumlah iuran seharusnya berdasarkan berapa target kebutuhan hidup saat pensiun.

Masalahnya, iuran pensiun DPLK tidak dihitung berdasarkan cara ini. Tidak berdasarkan berapa kebutuhan biaya hidup pensiun nantinya.

Namun, iuran DPLK ditentukan berdasarkan prosentase dari gaji.

Dengan cara perhitungan seperti ini, kita tidak tahu dengan pasti apakah jumlah iuran DPLK akan mencukupi atau tidak.

Kondisi yang berbeda jika menggunakan Reksadana.

Dalam Reksadana, jumlah investasi bisa disesuaikan sejalan dengan kebutuhan biaya hidup pensiun nanti. Sehingga besarnya investasi di Reksadana bisa betul – betul sesuai dengan target dana pensiun yang seharusnya dikumpulkan.

Alhasil karyawan yang hanya mengandalkan DPLK punya risiko bahwa dana pensiunnya kurang, sementara investasi Reksadana lebih menjamin kecukupan dana pensiun.

#2 Kebebasan Memilih Investasi

Faktor lain yang penting adalah pemilihan jenis investasi. Kenapa penting ?

Karena jenis investasi menentukan tingkat keuntungan ,yang akhirnya akan mempengaruhi jumlah dana yang dikumpulkan.

Jika return investasi di DPLK lebih rendah dibandingkan inflasi (kenaikkan biaya hidup), hasil dana pensiun tidak akan mencukupi kebutuhan biaya hidup.

Untuk menghadapi risiko ini, seharusnya jenis investasi dipilih berdasarkan berapa lama target pencapaian pension. Contohnya sebagai berikut:

  • Saham untuk Usia Pensiun > 15 tahun
  • Campuran untuk Pensiun > 10 tahun
  • Pendapatan Tetap untuk Pensiun > 5 tahun
  • Pasar Uang untuk Pensiun <= 5 tahun

Jenis Investasi Reksadana DPLK

Misalnya saham, memberikan return tertinggi namun risikonya juga paling tinggi, sehingga dipilih untuk target usia pensiun yang paling lama. Lamanya waktu bisa meredam gejolak risiko.

Sebaliknya, pasar uang seperti deposito atau simpanan, aman tapi tidak cocok untuk usia pensiun yang masih lama karena return pasar uang tidak jauh berbeda dengan inflasi sehingga punya risiko dana yang terkumpul tidak mencukupi.

Pasar uang cocok untuk usia pensiun yang pendek. Karena butuh instrumen yang paling kecil risikonya.

Masalahnya, dalam DPLK, karyawan tidak bisa leluasa memilih jenis investasi karena harus mengikuti kebijakan yang dipilih oleh perusahaan.

Kami pernah mengalaminya sendiri menghadapi masalah ini.

Perusahaan tempat kami kerja punya kebijakan bahwa DPLK harus menempatkan investasi di campuran (saham digabung dengan obligasi) yang berlaku sama untuk semua karyawan berapun lamanya waktu pensiun. Mau 2 tahun lagi pensiun dengan yang 15 tahun lagi, penempatan investasi di DPLK sama semua.

Tidak ada pilihan buat karyawan yang ikut DPLK untuk memilih instrumen yang paling cocok. Yang paling sesuai dengan profil risiko mereka.

Sementara, kecenderungannya perusahaan memilih instrumen yang konservatif, misalnya pendapatan tetap atau campuran. Mungkin lebih mudah mempertanggungjawabkan return yang stabil dibandingkan return yang fluktuatif (misalnya saham).

Masalahnya, pilihan instrumen yang konservatif belum tentu tepat. Meskipun aman, namun instrumen yang konservatif belum tentu return-nya cukup untuk mengejar kenaikkan harga (inflasi).

Dalam reksadana, Anda bebas memilih instrumen. Tidak ada kebijakan perusahaan yang membatasi.

Karena investasi Reksadana adalah inisiatif sendiri maka pemilihan diserahkan sepenuhnya kepada pemilik dana.

Ini membuat pilihan jenis investasi bisa sejalan dengan target pensiun.

#3 Penarikan Dana Pensiun

Berapa jumlah dana yang ditarik ketika pensiun tiba ? Semuanya. Mungkin itu asumsi banyak orang. Bahwa dana pensiun bisa ditarik seluruhnya.

Kenyataannya tidak.

Tidak bisa semua dana di DPLK bisa diambil seluruhnya ketika pensiun tiba. Ada aturan pemerintah yang membatasi.

Apakah ini aturan yang bagus atau tidak nanti kita lihat.

Ketentuannya sebagai berikut:

  • Untuk jumlah akumulasi dana (terdiri dari iuran, pengalihan dana serta hasil pengembangan) dibawah <= Rp 100 juta (setelah dipotong pajak), peserta berhak menerima pembayaran manfaat sekaligus.
  • Untuk jumlah akumulasi dana > Rp 100 juta (setelah dipotong pajak), peserta hanya bisa mengambil max 20% dananya, sisanya (80%) wajib dibelikan Anuitas dari perusahaan Asuransi Jiwa.

Dengan annuitas tersebut, peserta mendapatkan pembayaran setiap bulan (layaknya gaji) sampai seumur hidup.

Jadi, dengan DPLK. Peserta akan menerima ‘gaji’ setiap bulan dari dana pensiunnya sampai seumur hidup.

Misalnya, akumulasi dana pensiun di usia 55 tahun Rp 1.610.000.000. Penerimaan adalah sebagai berikut:

  • Dana dipotong terlebih dahulu pajak Pph 21 sebesar 78 juta; sisanya Rp1.532.000.000.
  • Sebesar 20%, yaitu Rp.306.400.000 dibayarkan sekaligus (lump-sum) ke peserta;
  • Sisanya 80%, yaitu Rp. 1.225.600.000 wajib dibelikan annuitas yang memberikan uang bulanan seumur hidup. Pembelian premi tunggal annuitas Rp. 1.225.600.000 menghasilkan Rp 12.256.000 per bulan selama seumur hidup.

Jadi, dana yang akan diterima saat pensiun adalah: (1) Rp 306 juta diterima sekaligus dan (2) Rp 12.256.000 diterima bulanan seumur hidup.

Apakah annuitas memberikan return yang menguntungkan ? Not Bad.

Karena uang Rp. 1.225.600.000 menghasilkan gaji bulanan Rp 12.256.000 selama seumur hidup, itu artinya 12% setahun. Ini guaranteed return, pasti diterima sebesar itu, meskipun bunga di pasar naik turun.

Namun, berapa tepatnya jumlah pembayaran dari annuitas setiap bulan tidak bisa diketahui karena itu nanti tergantung penawaran perusahaan asuransi yang mengeluarkan annuitas ketika peserta pensiun.

Buat sebagian orang, kewajiban membeli annuitas memberatkan karena harapannya bisa menarik semua uangnya. Apalagi jumlah yang wajib dibelikan sangat besar, 80 persen.

Namun kita perlu melihat apa keuntungan annuitas dan kenapa pemerintah mewajibkannya.

Pertama, jaminan bahwa peserta mendapatkan penghasilan rutin sampai akhir hayat. Karena risiko kekurangan dana menjadi tanggungan pihak yang mengeluarkan annuitas, yaitu perusahaan asuransi.

Kedua, buat pemerintah, hadirnya annuitas menjamin bahwa pensiunan punya jaminan keuangan selama masih hidup.

Dalam Reksadana tidak ada kewajiban pembelian annuitas. Saat pensiun seluruh dana bisa ditarik sekaligus.

Apakah ini lebih menguntungkan ? Belum tentu.

Ada risiko dana yang tersedia saat pensiun tersebut tidak mencukupi membiayai seumur hidup . Karena tidak ada jaminan bahwa dana yang bisa ditarik semua saat pensiun tersebut akan bisa dikelola dengan baik.

Ada risiko bahwa dana tersebut bisa habis karena salah kelola. Risiko ini yang dikelola oleh annuitas.

Tentu saja, dana yang ditarik dari Reksadana bisa dibelikan annuitas. Sehingga risiko kehabisan dana selama pensiun bisa diminimalisir.

Apakah dana pensiun di DPLK  bisa ditarik sebelum masa pensiun ?

Ini pertanyaan yang kurang tepat sebenarnya karena seharusnya dana pensiun tidak ditarik sampai masuk usia pensiun.

Namun dalam kondisi tertentu kita kadangkala terpaksa harus mengambil dana ini. Karena itu, akses atas dana ini juga penting.

DPLK tidak memperbolehkan peserta menarik dana kecuali, mengundurkan diri dari perusahaan tempat bekerja atau pensiun. Untuk penarikkan karena alasan pengunduran diri, prosesnya juga tidak mudah karena ada sejumlah persyaratan administrasi yang wajib dipenuhi.

Di Reksadana, dana pensiun bisa ditarik kapan saja dan berapa saja, at anytime and at any amount.

#4 DPLK Lebih Mudah 

Kenapa DPLK lebih mudah dilaksanakan.

Peserta mendapatkan potongan secara langsung dari gajinya setiap bulan. Tidak perlu melakukan penyetoran sendiri. Tidak perlu mendaftar.

Biasanya, perusahaan menawarkan skema pensiun sejak awal karyawan masuk. Pensiun adalah salah satu fasilitas non-gaji.

Proses di Reksadana tidak semudah itu.

Untuk mendaftar Reksadana, peserta harus melalui agen penjual. Ini bisa dilakukan dengan datang ke kantor cabang bank atau membeli lewat fasilitas online.

Kemudian, peserta Reksadana harus melakukan investasi secara rutin. Bisa dengan menyetor, bisa via atm.

Ada fasilitas baru di Reksadana yang disebut ‘auto-invest’.

Dengan fasilitas ini, Anda dapat dengan leluasa menentukan sendiri tanggal pendebetan dana dari rekening secara otomatis dan rutin setiap bulan untuk diinvestasikan ke dalam produk Reksadana pilihan Anda.

Pilih Mana

Dari perbandingan diatas, Anda bisa menentukan mana yang paling sesuai, paling cocok.

Keikutsertaan di program pensiun perusahaan dalam DPLK sebaiknya tetap dipertahankan.

Jangan pernah tidak ikut dalam DPLK. Kenapa ?

Pertama, dalam iuran DPLK, perusahaan ikut berkontribusi, selain iuran dari karyawan. Itu artinya perusahaan sebenarnya memberikan gaji tambahan lewat dana pensiun.

Jika tidak ikut DPLK, kehilangan kesempatan mendapatkan tambahan penghasilan dari perusahaan.

Kedua, proses ikut DPLK sangat mudah. Itu merupakan bagian dari kompensasi karyawan.

Dana Pensiun DPLK

Seandainya, belum punya dana pensiun lain, ikut DPLK sangat mudah.

Bagaimana dengan Reksadana ?

Anda harus ikut juga Reksadana. Kenapa? Bukannya sudah ada DPLK.

Ada dua alasan:

Pertama, bisa dipastikan jumlah dana pensiun yang dihasilkan oleh DPLK tidak akan mencukupi. Kami sudah beberapa kali melakukan simulasi dan hasilnya menunjukkan kekurangan dana pensiun jika hanya mengandalkan DPLK.

Ini karena penghitungan iuran pensiun DPLK berdasarkan gaji. Bukan berdasarkan kebutuhan biaya hidup pensiun.

Kedua, banyak keterbatasan dalam DPLK.

Misalnya, karyawan tidak bisa meningkatkan iuran. Iuran sudah fixed sesuai gaji.

Lalu, jenis investasi tidak bisa diganti – ganti sesuai ‘selera’ risiko karyawan.

Keterbatasan ini bisa diatasi oleh Reksadana.

Ini sebabnya punya Reksadana untuk persiapan pensiun adalah wajib, meskipun sudah punya DPLK dari kantor.

Kursus Reksadana Gratis

Kesimpulan

Kesiapan pensiun masyarakat di Indonesia masih sangat rendah. Menurut laporan Bapepam-LK (sekarang OJK) tahun 2011, hanya 5.06% pekerja yang siap dengan dana pensiunnya.

Saatnya Anda membangun program pensiun untuk masa depan keluarga. Baik Reksadana dan DPLK bisa menjadi pilihan terbaik.

Silahkan memilih yang paling cocok diantara keduanya. Meskipun, kesimpulan saya keduanya sama penting. Ingin tahu lebih jauh soal Pilihan Investasi yang Tepat untuk Masa Depan.

12 Responses

  1. Indrawati

    saya ibu rumah tangga suami saya bekerja di perusahaan swasta dg gaji 8 jt perbulan, saya ingin ikut reksadana dg tujuan jangka waktu 6 th kedepan saya bs membeli rumah lagi. bisa bantu saya reksadana jenis apa yg saya ambil? trimakasih.

    Reply
  2. AHMAD BADARUDDIN

    Yth. Pak Rio,

    Saya kini berusia 55 tahun dan Istri 45 tahun, kami masih berkerja dengan pendapatan 7.500.000 dan istri 4.000.000,- saya dikarunia 3 anak. Anak pertama kini kuliah semester 3 Sementara 2 anak (kelas 3 sma dan 1 sma). Saya dan Istri baru ikut asuransi pru besarnya 1,3 jt. Mohon saran untuk pendidikan anak2 kami.

    Salam dan terima kasih

    Reply
  3. PT. Indo Premier Investment Management

    Reksadana jelas merupakan pilihan untuk mulai berinvestasi di pasar modal dengan mudah tanpa harus mencari modal besar. Mulai dengan Rp100 ribu Anda sudah bisa bernivestasi. Saking mudahnya Reksadana telah menjadi menjadi pilihan investasi populer berbagai kalangan mulai dari mahasiswa, petani, ibu rumah tangga, karyawan swasta, PNS, sampai pengusaha besar. Daya tarik utama Reksadana tentulah karena kemudahan bertransaksi dan tingkat keuntungan (return) yang jauh melebihi tabungan dan deposito.

    Tunggu apa lagi, yuk kita investasi reksadana !!

    premierreksadanaonline.com

    Reply
  4. Athoillaha

    umur saya 31 tahun,kerja di luar negeri yg notabenenya kerja di perusahaan yg tidak menyediakan asuransi ataupn dana pensiun, dg gaji perbulan 25 juta, bagaimana cara menyipakan dana pensiun dini dg harapan setelah umur 45 tahun saya bisa mendapat income bulanan yg pasti minimal 10 juta sampai umur 70-100 tahun

    Salam hormat dan terimakasih

    Reply
  5. haeruman

    Yth pak rio

    saya karyawan swasta gaji saya 5 juta/bulan usia 34 thun, saya sedang bingung pilih persiapan dana pensiun antara dplk bumi putera dengan retaire link manulife atau reksadana seperti yg di utarakan di atas,mohon pencerahannya..

    Reply
  6. misno

    Saya umur 22 tahun, pengen investasi tapi bingung dengan investasi apa yang cocok…
    Tujuan saya pengen punya rumah pas umur 30 tahun, artinya saya punya 8 tahun lagi…
    dalam waktu 8 tahun kira2 investasi yang cocok buat saya apa ya pak.
    Terima Kasih

    Reply
  7. Namaku Jiro

    Pak Rio, disebutkan dua kekurangan DPLK adalah iuran dan jenis investasi yang fixed. Tapi yang saya ketahui dari berbagai sumber (brosur, Web site, customer service, dll.) kalau kita ikut DPLK secara mandiri seperti pada DPLK milik bank BNI atau bank Mandiri itu bisa diubah-ubah.

    Apa perbedaan lainnya antara DPLK kolektif sebagai pegawai suatu perusahaan dengan DPLK secara mandiri selain dua di atas itu?

    Reply
    • admin

      Betul utk DPLK Individual bisa dirubah sesuai kehendak. DPLK Kolektif yang mengikuti ketentuan kantor.

      Reply
      • Namaku Jiro

        Terima kasih atas jawabannya. Dengan situasi seperti yang saya hadapi, pilihan antara DPLK Individu atau Reksadana, REKSADANA menjadi pilihan yang lebih menarik. Atau ada detil lain yang belum saya ketahui?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Ikuti berita terbaru Duwitmu.com!