Kriteria Memilih Investasi Reksadana

  • June 17, 2013

Salah satu pertanyaan yang paling kerap mengemuka saat membahas reksadana adalah bagaimana Memilih Investasi Reksadana terbaik. Ternyata, bagi sebagian orang, memilih reksadana bukan hal yang mudah. Akibatnya, tidak sedikit yang membatalkan niatnya berinvestasi di reksadana karena kebingungan itu.

Ini panduannya.

Paling tidak, ada tiga tantangan yang saya alami ketika mulai Investasi Reksadana. Tantangan yang saya percaya juga banyak dijumpai oleh yang lain.

Pertama, jumlah Reksadana yang cukup banyak, dengan berbagai macam tawaran dan iming-iming. Semua meng-klaim “kecap nomer satu”.

Per akhir 2012, data Bapepam menunjukkan terdapat total 754 total reksadana yang dikelola oleh 73 Manajer Investasi di Indonesia. Bukan jumlah yang sedikit untuk dipilih.

Kedua, pemahaman yang masih terbatas mengenai investasi reksadana, karena instrumen ini relatif baru jika dibandingkan instrumen lain seperti deposito dan tabungan.

Harus banyak belajar, baca buku dan tanya sana – sini untuk memahami indikator – indikator kinerja reksadana. Banyak homeworks yang perlu dilakukan untuk memahami instrumen yang relatif baru.

Ketiga, karena uang yang diinvestasikan adalah uang masa depan yang sangat penting buat pendidikan anak dan dana pensiun, proses pemilihan reksadana menjadi ekstra hati – hati. Kadang – kadang malah terlalu hati – hati yang berujung pada penundaan karena takut melakukan kesalahan.

Ketakutan ini sangat mungkin disebabkan oleh pemahaman yang kurang mengenai reksadana sendiri.

Saya tidak tahu apakah teman – teman juga menghadapi kebingungan yang sama saat ingin investasi di reksadana.

Tetapi buat yang kebingungan, saya ingin berbagi mengenai kriteria yang saya gunakan ketika memilih reksadana. Kriteria pemilihan sebenarnya sesuatu yang subjektif tergantung pertimbangan masing – masing orang yang didorong oleh kebutuhan dan prioritas keuangan yang berbeda – beda.

Dengan saling berbagi, kita bisa belajar memperbaiki kriteria yang sudah kita punyai untuk lebih baik lagi.

Kriteria Reksadana

Ini kriteria saya.

Pertama, sudah berapa lama reksadana tersebut berdiri. Minimum batasan saya diatas 5 tahun.

Kenapa umur penting.

Pasar modal itu sifatnya cyclical, ada saatnya naik (bullish) dan ada saatnya turun (bearish). Saya mau reksadana yang saya pilih sudah melewati dua masa itu, naik dan turun.

Kalau bisa melewati dua masa itu dengan selamat, artinya reksadana ini sudah tahan banting.

Kedua, saya tidak menempatkan tingkat keuntungan sebagai faktor utama. Mungkin ini pertimbangan yang agak “aneh”.

Biasanya keuntungan adalah faktor yang paling cepat dilirik dan dibahas oleh pemodal saat mengevaluasi kinerja reksadana.

Makanya, return menjadi indikator yang paling banyak ‘dijual’ saat reksadana mempromosikan diri. Return tinggi seakan menjadi mantra penarik investor.

Kita tidak boleh lupa, adagium teori keuangan, “high risk high return”.

Dibalik keuntungan ada risiko. Dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Return harus selalu dievaluasi bersamaan dengan risiko-nya. Karena itu, buat saya yang penting adalah perbandingan antara return dan risk.

Reksadana mana yang paling baik rasio antara keduanya, itu yang saya pilih.

Reksadana yang tingkat keuntungannya tinggi tetapi bobot resikonya jauh lebih besar, sehingga keuntungan menjadi tidak sebanding dengan resiko yang muncul, sebisa mungkin saya hindari.

Sebaliknya, reksadana yang keuntungan “biasa-biasa saja”, tetapi punya resiko yang rendah, sehingga rasio return dan risk –nya menjadi baik, akan jadi pilihan saya.

Ketiga, seberapa mudah akses pembelian reksadana tersebut.

Mengapa akses menjadi penting ?

Karena investasi dilakukan secara rutin setiap bulan, maka perlu proses yang mudah.

Saya pernah mengalami punya reksadana yang kinerjanya bagus tetapi akses pembeliannya sulit. Diharuskan menghubungi manajer investasinya langsung setiap kali ingin menambah atau mencairkan dana. Tidak bisa beli online atau lewat bank.

Akibatnya jadwal investasi rutin menjadi tidak lancar dan terganggu. Pembelian sering tertunda karena akses investasi yang rumit ditengah tuntutan kesibukkan pekerjaan.

Sejak itu, sebelum membeli reksadana, saya selalu pastikan dulu aksesnya mudah.

Misalnya, apakah bisa dibeli secara online, ada tidaknya fasilitas auto-invest yang membuat investasi bisa dilakukan secara otomatis hanya dengan sekali perintah. Kemudahan membeli atau menjual reksadana menjadi faktor yang sama pentingnya dengan kinerja reksadana, bagi saya.

Keempat, jumlah dana kelolaan reksadana tersebut.

Besarnya dana menunjukkan besarnya kepercayaan dari masyarakat dan institusi pemodal.

Selain itu, reksadana dengan dana kelolaan besar umumnya diisi oleh pemodal institusi, yang saya tahu, memiliki proses seleksi yang ketat dalam memilih reksadana.

Pemodal institusi tidak hanya menilai aspek return-risk tetapi juga governance, tata kelola, dari pengelolaan reksadana. Governance atau tata kelola menjadi hal penting bagi institusi seperti reksadana yang mengelola dana masyarakat.

Walaupun begitu, banyak juga yang tidak suka reksadana dengan dana kelolaan besar karena dipandang tidak fleksible dalam berinvestasi, yang berujung pada tingkat keuntungan yang  kurang optimal.

Pengalaman saya memiliki reksadana dengan dana kelolaan besar tidak menunjukkan bahwa mereka jadi tertinggal tingkat keuntungannya dibandingkan reksadana yang lebih kecil ukurannya.

Kelima, besarnya managemen fee yang dibebankan oleh manajer investasi.

Fee yang besar mengurangi keuntungan reksadana. Karenanya, fee yang tinggi perlu diwaspadai dan jika memungkinkan dihindari.

Cara paling mudah adalah membandingkan fee yang ditarik oleh Manajer investasi yang satu dengan manajer investasi yang lain.

Yang membebankan fee lebih tinggi dibandingkan peers-nya manajer investasi yang sekelas, sebisa mungkin saya tidak pilih. Keuntungan yang tinggi akan tidak berarti, jika dikurangi oleh fee yang yang tinggi.

Apalagi, reksadana yang membebankan fee tinggi namun memiliki kinerja yang tidak bagus, sudah pasti harus segera dicoret dari daftar pilihan sejak awal.

Kriteria Reksadana

Mudah- mudahan pengalaman saya ini bisa jadi masukkan dan pertimbangan bagi teman – teman yang masih menimbang reksadana apa yang mau dipilih, sehingga bisa segera memulai investasi di reksadana.

Ingin tahu dan belajar lebih jauh soal reksadana, silahkan ikuti Kursus Reksadana atau simak Rp 100rb sudah bisa Beli Reksadana.

GRATIS e-book Panduan Reksadana Dasar

10 Responses

  1. Samsul

    Ya, panduan yang sangat bermanfaat apalagi bagi pemula yang mau bermain di reksadana. Bagaimanapun juga reksadana kian makin diminati investor apalagi untuk jangka panjang karena resiko yang dihasilkan lebih kecil daripada bermain di saham. Walau demikian faktor-faktor yang diatas tetap menjadi perhatian terutama fee yang tinggi bagi manajer investasi

    Reply
  2. yuli

    apakah reksadana harus ditambah terus tiap bulan? saya sudah memiliki reksadana setahun belakangan ini namun tdk saya tambah/kurang. Bank yang saya pakai ini tdk menyediakan transaksi online -hanya pembelian langsung- saya beli di bank Mandiri.
    Bagaimana seharusnya memperlakukan reksadana, apakah spt “tabungan rencana” yang ada setoran rutin tiap bulan atau spt “deposito” yang bisa didiamkan saja atau tergantung keuangan?? Mohon pencerahan… 🙂
    oya, bagaimana sih membaca laporan reksadana klo mau lihat nominal yang saya miliki saat itu? 😀

    Reply
    • admin

      Terima kasih sudah berkunjung. Reksadana sebaiknya dilakukan investasi secara rutin karena hasilnya akan lebih optimal meskipun investasinya kecil. Investasi Reksadana bisa mulai dari Rp 200 sd 250 rb per bulan (sama dengan biaya pulsa bulanan 🙂 ). Pertanyaan2 Anda yang lain cukup teknis dan agak sulit diuraikan disini karena tempatnya terbatas, takutnya menimbulkan kesalahpahaman. Saran saya Anda ikut Kursus Reksadana yang kami adakan. Kursusnya dilakukan secara online, sehingga bisa diakses dimana saja dan kapan saja. Infonya cek disini.

      Reply
  3. enii

    darimana kita bisa tau semua kriteria yang bapak jelaskan diatas?
    harus tanya ke banknya ya?
    saya baru saja membuka rekening di c*****w***th untuk membuka reksadana ..

    Reply
  4. Lisdha

    Salam Pak Rio,
    Tiga-empat tahun lagi kami punya plan untuk membeli/memulai kredit rumah. Puji Tuhan jika bisa cash. Kalaupun tidak, sebisa mungkin DP-nya cukup besar sehingga sisa kreditnya tak terlalu lama.

    Apakah investasi RD dengan sistem auto installment tiap bulan cukup memadai untuk jangka waktu tsb (tiga-empat tahun)?

    Jika ya, jenis RD apakah yang harus saya ambil? Jika mengambil RD berisiko rendah, apakah kemungkinan returnnya masih tetap lebih kompetitif dibandingkan bunga bank?

    Terima kasih

    Reply
    • admin

      Lisdha, Anda bisa ambil Reksadana Pendapatan Tetap atau Reksadana Pasar Uang. Return mereka masih lebih tinggi dibandingkan tabungan bank. salam

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Ikuti berita terbaru Duwitmu.com!