Perbedaan Investasi Reksadana dan Unit Link yang Wajib Dipahami

  • February 9, 2015

Banyak yang salah menyamakan investasi Reksadana dengan Unit Link. Mereka berbeda dan perbedaan itu punya implikasi serius terhadap cara investasi diantara keduanya. Apa saja perbedaan itu?

Unit link adalah produk asuransi paling populer saat ini dan menjadi backbone banyak perusahaan asuransi jiwa. Menurut data AAJI, asosiasi asuransi jiwa Indonesia, premi unit link berkontribusi 50% lebih dari total premi, mengalahkan asuransi tradisional.

Kepopuleran tersebut salah satunya karena di unit link, premi tidak hangus, tapi “dikembalikan” kepada peserta.  Harus diakui, pemahaman asuransi sebagai pemborosan masih melekat di benak mayoritas masyarakat. Sehingga ketika ada yang menawarkan pengembalian premi, produk itu menjadi menarik dan laku dijual.

Unit link dipasarkan lebih agresif dibandingkan instrumen investasi lain. Pemasarnya adalah para agen asuransi yang diganjar komisi tinggi. Sementara, penjualan Reksadana atau instrumen lain relatif lebih pasif.

Yang terjadi kemudian, ketika berhadapan Reksadana, banyak yang membandingkan head to head dengan unit link. Banyak yang menyampaikan kepada saya, baik lewat comment atau email, pertanyaan yang menganggap Reksadana sama dengan Unit Link.

Oleh karena itu, saya ingin menyampaikan lewat artikel ini bahwa Reksadana itu berbeda dengan Unit Link. Meskipun, keduanya adalah instrumen yang sama-sama dikelola oleh Manajer Investasi.

Tapi, sebelum membahas perbedaannya, kita lihat dulu apa kesamaannya.

Persamaan Reksadana dan Unit Link

Keduanya adalah instrumen investasi yang dikelola oleh Manajer Investasi sebagai pihak yang memiliki keahlian dan legalitas untuk mengelola dana masyarakat. Dana ditempatkan Manajer Investasi ke berbagai instrumen, misalnya saham, pendapatan tetap (obligasi), campuran dan pasar uang.

Itu sebabnya, jenis investasi yang ditawarkan Reksadana dan Unit Link itu tidak jauh berbeda. Karena instrumen yang digunakan sama, tingkat risiko investasi di Reksadana dan Unit Link menjadi sama.

Perbedaan Reksadana dan Unit Link

Investor menjalani proses yang berbeda ketika berinvestasi di Reksadana dan Unit Link.

  • Unit Link. Peserta membayar uang (premi) ke perusahaan asuransi yang kemudian menempatkan sebagian dari premi kepada manajer investasi untuk dikelola ke berbagai instrumen investasi.
  • Reksadana. Peserta langsung menanamkan uangnya ke Manajer Investasi untuk dikelola. Tidak ada perantara perusahaan asuransi.

Karena perbedaan proses tersebut, muncul berbagai perbedaan lainnya sebagai berikut:

#1 Bebas Berinvestasi:  Jumlah dan Waktu

Di Reksadana, investor bebas menentukan berapa jumlah investasi, dan kapan dilakukan. Tidak ada kewajiban untuk berinvestasi secara rutin, misalnya setiap bulan dalam jumlah tertentu.

Hari ini investasi kemudian enam bulan lagi baru beli lagi, itu bisa dilakukan.  Tidak ada batasan jumlah. Mau 100 ribu bisa, mau 100 juta bisa. Jumlah investasinya sangat fleksibel.

Ini berbeda dengan unit link. Karena terkait asuransi, peserta wajib membayar secara rutin setiap bulan dalam jumlah yang sudah ditentukan. Telat bayar atau kurang bayar punya konsekuensinya.

#2 Bebas Memilih dan Berganti Manajer Investasi

Ingin ganti manajer investasi ? investor bebas melakukannya di Reksadana.  Bisa berganti setiap waktu jika dianggap perlu. Tidak ada batasan.

Contohnya, sebuah reksadana online memiliki 22 manajer investasi dengan 98 pilihan reksadana. Semuanya bisa bebas dipilih oleh investor.

Ada batasan waktu? Tidak ada. Hari ini pilih manajer investasi A, kemudian besok ganti ke B, itu bebas dilakukan.

Di Unit Link, kebebasan memilih dan berganti manajer investasi relatif terbatas. Di kebanyakkan unit link hanya tersedia satu manajer investasi sehingga peserta tidak bisa berganti-ganti.

Jika ingin berganti manajer investasi, peserta harus berhenti dulu kemudian ganti yang lain atau membeli di asuransi unit link lain.

#3 Gratis Biaya Beli dan Jual

Apakah ada fee melakukan beli dan jual unit investasi ?

Unit link membebankan fee sebesar  5% untuk setiap tambahan investasi (top up). Misalnya, investor menempatkan 1 juta rupiah, maka 950 ribu diinvestasikan dan 50 ribu dibayar ke perusahaan asuransi.

Fee 5% itu kecil atau besar? bandingkan dengan  bunga tabungan yang  besarnya sekitar 3 sd 4% setahun.

Selain itu, beberapa unit link menetapkan harga jual dan harga beli yang berbeda. Spread jual dan beli ini merupakan biaya buat investor karena harga jual lebih murah dari harga beli.

Katakan pada saat beli (investasi) harga unit adalah Rp 1,000; sementara saat jual (cairkan) harga unit adalah Rp 950. Misalkan investasi Rp 1juta, maka unit yang diperoleh adalah 1juta/1,000 yaitu 1,000 unit; lalu di saat yang sama dijual kembali maka nilai yang diterima adalah 1,000 unit kali Rp 950 yaitu Rp 950,000. Ada kekurangan Rp 50 ribu yang merupakan fee ke perusahaan asuransi.

Di Reksadana online, gratis biaya beli dan jual investasi. Tidak ada potongan. Uang Anda utuh masuk ke Reksadana. Di beberapa Reksadana yang dijual tidak online masih memberikan fee sekitar 1 sd 2% saat beli, tapi fee 0% saat jual.

Tidak ada juga spread antara harga jual dan beli. Hanya ada satu harga yang sama untuk jual dan beli di Reksadana.

#4 Bebas Mencairkan

Setiap saat investor ingin mencairkan dananya  (seluruh atau sebagian) bisa dilakukan dengan mudah di Reksadana. Bisa datang ke customer service agen penjual (biasanya bank) tempat investor membeli. Kalau beli secara online, invstor tinggal isi form penjualan di situs. Dalam waktu maksimum 3 hari (H+3), dana sudah masuk ke rekening investor.

Di unit link pencairan seluruh atau sebagian secara teoritis bisa dilakukan. Prosesnya tidak jauh berbeda dengan Reksadana. Tapi, karena unit link mengaitkan investasi dengan asuransi, masalahnya menjadi sedikit lebih kompleks.

Di unit link, investasi menghidupi atau membayar biaya asuransi. Jika investasi diambil semua maka otomatis asuransi berhenti (lapse) karena tidak ada dana untuk membayar biaya asuransi. Ini yang perlu dipertimbangkan peserta baik – baik. Apalagi, kalau asuransi yang diambil adalah asuransi kesehatan atau asuransi jiwa, yang proteksinya sangat penting.

Itu pula sebabnya agen biasanya minta peserta menyisakan dana (tidak diambil semua) saat penutupan polis unit link. Tujuannya, supaya asuransi bisa tetap jalan dan agen tidak kena pinalti karena polis lapse.

#5 Mulai Investasi dari Rp 100 ribu

Berapa minimum premi unit link? Yang saya tahu rata-rata sekitar Rp 500 ribu per bulan, atau paling kecil yang pernah saya baca adalah Rp 350 ribu per bulan. Itu jumlah dana yang paling tidak harus disiapkan investor yang ingin berinvestasi via unit link.

Di Reksadana yang dibeli online, minimum investasi adalah mulai dari 100 ribu per bulan.

#6 Hasil Investasi Dinikmati sejak Hari Pertama

Unit Link adalah investasi yang hasilnya baru bisa dinikmati di tahun ke dua.

Adanya sejumlah potongan biaya (baca penjelasan lengkapnya disini) membuat premi yang peserta bayarkan baru menghasilkan return di tahun ke dua. Coba lihat proposal unit link akan  tampak bagaimana nilai investasi tahun pertama nihil.

Memang, jika dilakukan top-up di unit link, maka hasil investasi akan muncul di tahun pertama. Tapi, pembayaran premi dasar di unit link baru akan menghasilkan di tahun ke dua. Pembayaran unit link terdiri atas premi dasar (wajib) dan top up.

Reksadana memberikan return sejak hari pertama uang diinvestasikan. Tidak ada jeda waktu. Bisa dilihat pada laporan bulan pertama berapa hasil return dari instrumen investasi.

#7 Tidak Ada Proteksi

Unit link memberikan unsur proteksi. Jika peserta mengalami musibah meninggal dunia, cacat, sakit, unit link menyediakan jaminan perlindungan dalam bentuk uang.

Di Reksadana, perlindungan ini tidak ada karena memang tujuannya adalah untuk investasi.  Jika ingin proteksi, investor harus membeli produk asuransi yang terpisah. Misalnya mengambil asuransi jiwa term life atau asuransi kesehatan murni.

Mana yang lebih baik, beli dalam satu unit link atau reksadana plus asuransi ? Dua-duanya punya kelebihan dan kekurangan sendiri. Pembahasan selengkapnya bisa baca disini.
Reksadana

Rangkuman

Perbedaan-perbedaan tersebut diatas dirangkum secara singkat dalam tabel dibawah ini.

tabel_reksadana_2

Kesimpulan

Meskipun terlihat serupa, tapi perbedaan cara berinvestasi di Reksadana dengan Unit Link cukup banyak dan signifikan. Ini pencerahan bagi yang selama ini masih menganggap keduanya sama.

Penting buat investor untuk tahu dengan pasti dan jelas dengan apa yang dibeli atau diinvestasikan sebelum memulainya. Sekarang, Anda bisa pilih mau Reksadana atau Unit Link.

GRATIS Konsultasi Premi Asuransi

19 Responses

    • Budiarta

      Mana lebih cepat perkembangan dananya Klo reksadana setorannya tetap seperti unit link atau setor jarang2 tapi dalam jumlah besar. Misalnya setoran 500 rb perbulan atau stor tiap tahun 6 jt, mana yg lebih baik

      Reply
      • admin

        Budiarta,

        Rutin atau one-time tidak bisa ditentukan mana yang terbaik karena tergantung kondisi pasar. Misalnya, saat pasar sedang bagus Anda melakukan one-time investasi maka keuntungan besar, tapi sebaliknya jika pasar sedang buruk keuntungan turun. Jika rutin, Anda bisa menyebar resiko tapi keuntungannya tidak setinggi one-time saat pasar sedang bagus, tapi kerugian lebih kecil saat pasar turun.

        salam

  1. rudi

    reksadana udah punya lewat ipot terus pak kalo beli saham langsung ke perusahaan sekuritas (full service) sama tidak dengan halnya membeli direksadana, terus bagaimana perbandingan keuntungan dan resikonya. atau sama dengan forex? (saham vs reksadana dan saham vs forex)

    Reply
    • admin

      Setahu saya, IPOT mengintegrasikan antara saham dan Reksadana. Jadi sekali sudah buka akun Reksadana bisa langsung buka saham. Silahkan dicek dengan pihak IPOT. Untuk Forex, saya tidak paham.

      Reply
  2. Agus

    Jadi reksadana tidak harus setor rutin tiap bulan ya? Krn saya ikut unit link hrs bayar tiap bulan dlm jumlah tertentu.. Jd misal saya ada uang cash 10jt, langsung saya masukkan ke reksadana, dan bulan2 berikut saya diamkan saja, apa bisa berkembang?

    Reply
    • admin

      Ya dananya akan berkembang di Reksadana. Reksadana dan Unit Link itu pada dasarnya sama proses investasinya.

      (1) Reksadana: Uang Nasabah langsung ke Manajer Investasi yang akan menempatkan dana di instrumen (saham, obligasi dll)
      (2) Unit Link: Uang Nasabah ke Asuransi, lalu Asuransi ke Manajer Investasi yang akan menempatkan dana di instrumen (saham, obligasi dll).

      Jadi ujungnya sama, dana Anda dikelola oleh Manajer Investasi.

      Reply
      • Agus

        Oke.. . Soalnya kadang males kalau harus tiap bulan setor rutin.. Pengennya skalian banyak.. Hehe

    • Melissa

      Hai Agus,

      Jika kamu sedang punya uang cash dan ingin investasi, benar kata Pak Rio, bisa setorkan langsung ke reksadana. Tapi dalam hal ini Pak Rio juga kurang penjelasannya. Kamu juga bisa langsung setor ke unit link kamu kok. Karena pada dasarnya premi yang kamu bayarkan kan terbagi dua, yaitu premi untuk proteksi dan premi untuk investasi.

      Enaknya punya Unit Link adalah kamu seperti punya “asisten pribadi”, yaitu agen asuransi kamu. Agen asuransi dibayar cukup tinggi karena dianggap jasa “konsultan”. Jadi kamu bisa hub agen yang dulu membantu kamu buka Unit Link dan sampaikan kalau kamu mau setor dana sebesar X dan ingin 100% dimasukkan ke premi investasi kamu (alias ingin semuanya dimasukkan untuk investasi).

      Jadi tidak perlu cicil bulanan. Kapan pun kamu punya dana lebih dan ingin langsung setor ke investasi Unit Link, you can do it. Jadi coba kontak2 agen asuransi kamu ya. Ingat, dia berkewajiban untuk membantu SEMUA kebutuhan kamu terkait asuransi (proteksi dan investasi) kamu, tidak hanya berkewajiban jualan 🙂

      Semoga lancar semua ya.

      Reply
      • admin

        Melissa, terima kasih tambahan penjelasannya. Ada yang Anda tidak jelaskan bahwa: jika setor ke Reksadana tidak ada potongan (bebas fee) – terutama beli di Reksadana Online, setor ke Unit Link ada potongan 5%. Silahkan memilih mana yang terbaik. salam

  3. dian

    Dear Pak Rio,
    Awal saya bekerja saya langsung ikut unit link karena tergiur dgn kata2 investasi, padahal masih kurang faham tentang dunia investasi. Kira2 baru 2 tahun ini saya ikut unit link.. Jadi agak menyesal kenapa dulu saya tdk mencari tahu tentang unit link, karena saya fikir waktu ditawarkan adalah investasi. Tiap bulannya memang dipotong untuk biaya premi, tapi saya juga beberapa kali top up ke unit link, karena kebiasaan saya kalau ada uang berlebih di rekening bisa boros, jadi lebih baik saya masukkan ke top up. Setelah baca ini saya baru tahu lho Pak ternyata ada biaya tambahan fee 5%, jujur saya jadi agak kecewa karena saya tidak diberutahu mengenai fee ini. Kalau saya mau tarik uang saya juga katanya bisa rugi, saya bingung dibiarkan saja atau ditarik saja ya Pak? Terimakasih banyak ya Pak 🙂

    Reply
    • admin

      Kalau saya, top up unit link stop. Lebih baik top up via Reksadana karena lebih murah fee-nya (tidak ada potongan biaya) dan sebenarnya instrumen investasi unit link dan reksdana itu sama (sama-sama dikelola Manajer Investasi).

      Reply
      • Jonathan

        Maaf admin, untuk pertanyaan apakah sebaiknya dana ditarik dari unit link lalu beralih ke Reksanada sepertinya belum terjawab. Mohon pencerahannya, karena saya mengalami hal yang hampir mirip dengan Ibu Dian.

  4. sudiadnya

    kalau investasi sekaligus 50 juta dlm 10 tahun kira kira menjadi berapa ya ?

    Reply
  5. mega

    salam admin, mana yang lebih menguntungkan dalam reksadana. peletakan dana tunggal misalnya 100 juta, atau pertahun 6 juta dan kita melakukan top up rutin pertahun sebanyak kurang lebih 10 juta.. dalam jangka waktu yang sama, mana yang lebih berkembang mas? terimakasih

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Ikuti berita terbaru Duwitmu.com!