Kenapa Investasi ORI: Bunga diatas Inflasi, Risiko Nol

  • October 29, 2014

Tingginya hantu inflasi dan stagnannya bunga deposito membuat investor harus mencari alternatif investasi. Investasi ORI (Obligasi Negara  Ritel) menawarkan bunga diatas inflasi dan deposito, dengan risiko sangat kecil. 

Tapi, sebelum membeli, sebaiknya paham plus minus instrumen ini karena tidak semuanya cocok dengan ORI.

Inflasi itu merobek kantung kita semua. Nilai uang merosot setiap tahun. Parkir yang dulu Rp 1 ribu sekarang sudah Rp 2 ribu. Makan siang yang dulu Rp 10 ribu, sekarang jelas tidak bisa lagi.

Banyak yang menaruh uangnya di deposito dengan harapan bunganya bisa mengalahkan inflasi. Bunga deposito 6 – 7%, inflasi 6%, marginnya tipis sekali. Dan, inflasi bisa setiap saat melejit ke 8% seperti beberapa tahun lalu, jika kondisi ekonomi jelek.

Cara lain adalah berinvestasi. Misalnya di Reksadana, Emas, Properti, dan Saham. Karena berinvestasi menghasilkan keuntungan diatas laju inflasi.

Tapi bagi banyak orang, investasi itu menakutkan. Takut uangnya hilang tanpa bekas. Apalagi, setelah muncul banyak kasus investasi bodong. Bukannya untung, malah buntung, itu pikiran sebagian orang.

Tulisan ini akan membahas investasi di ORI. Ini investasi yang cukup istimewa karena risikonya hampir nol tapi keuntungan atau returnnya diatas inflasi. Seluk beluknya dan buat siapa investasi ORI ini cocok dan tidak cocok.

Apa ORI

Pemerintah itu butuh uang untuk membangun. Daripada utang luar negeri, pemerintah Indonesia berhutang kepada masyarakat dengan menerbitkan surat hutang, yang disebut obligasi.

Karena obligasi diterbitkan oleh negara (bukan oleh korporasi) dan dirancang supaya lapisan masyarakat bisa berpartisipasi, surat utang ini diberi nama Obligasi Negara Ritel, disingkat ‘ORI’.

investasi ORI

Apa itu surat utang atau obligasi? Pada intinya, surat tersebut menyatakan utang sejumlah tertentu yang dibayar lunas pada jangka tertentu beserta tingkat bunga atau kupon yang dibayarkan secara rutin selama periode tertentu. Contoh Struktur ORI 009 sbb:

Penjualan ORI pertama kali dilakukan di pasar perdana (primary market) antara penerbit (dalam hal ini pemerintah Indonesia) dengan investor. Setelah itu, jual beli antar investor dilakukan di pasar sekunder (secondary market).

Persyaratan investasi ORI adalah (1) orang perseorangan Warga Negara Indonesia yang dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP); (2)Investasi minimum Rp 5 juta dam kelipatannya; (3) mempunyai rekening tabungan di bank umum.

Manfaat & Keuntungan

Ada dua sumber keuntungan: (1) bunga atau kupon yang diberikan secara rutin. (2) potensi keuntungan akibat kenaikkan harga ORI di pasar sekunder.

Selain dua keuntungan utama ini, ORI dapat dijadikan sebagai agunan dan dapat dijual setiap saat apabila pemilik membutuhkan dana.

#1 Kupon ORI

Kupon dibayarkan setiap bulan dengan tingkat tetap, tidak terpengaruh fluktuasi pasar. Buat sebagian orang, kupon ini seperti gajian, karena diterima dalam jumlah tetap secara rutin.

investasi ORI

Berapa Kupon ORI? Ini angkanya sejak ORI terbit tahun 2006 sd 2012.

Terlihat kupon cukup tinggi. Tapi, harus diingat bahwa kupon dikenakan pajak atas transaksi bunga obligasi & capital gain, yaitu Pph final 15%.

Apakah kupon ORI selalu diatas inflasi? Ini penting dijawab karena salah satu tujuan utama berinvestasi adalah mendapatkan hasil lebih dari inflasi.

Untuk menjawabnya, perlu membandingkan kupon ORI (setelah dikurangi pajak) dengan inflasi. Grafik ini disamping menunjukkan bahwa most of time, kupon ORI diatas inflasi, meskipun ada saat dimana kupon lebih rendah dari inflasi.

investasi ORI

Artinya, dengan menaruh di ORI, investor mendapatkan keuntungan riil, yang lebih baik dibandingkan menabung atau deposito.

#2 Capital Gain

Hal yang membedakan ORI dengan deposito adalah ORI bisa diperjualbelikan di pasar sekunder,  yaitu di Bursa Efek Indonesia. Jadi, jika ingin mencairkan sebelum jatuh tempo , investor bisa menjual di pasar sekunder.

Karena menjual di pasar, harganya bisa lebih tinggi dari nilai pokok awal atau lebih rendah. Jika lebih tinggi, investor untung (capital gain), jika lebih rendah rugi (capital loss).

Contohnya: Investor membeli ORI di Pasar Perdana (saat pertama kali dijual) sebesar Rp10.000.000,-dengan kupon 7,95% dan dijual di Pasar Sekunder dengan harga 105%, maka hasil yang diperoleh: saat dijual Capital Gain = Rp10.000.000 x (105-100)% = Rp500.000,-.

Harga di pasar sekunder bisa lebih rendah dari nilai pokok awal. Katakan harga pasar sekunder 95%, sehingga dengan contoh diatas, saat menjual investor mengalami kerugian, capital loss sebesar Rp 9,500,000 – Rp 10,000,000 = 500,000.

Apa Risikonya

Ada sejumlah risiko investasi ORI yang perlu dipahami sbb:

#1 Risiko Gagal Bayar

Dalam surat utang tidak ada jaminan, sehingga jika penerbit gagal bayar atau tidak bisa membayar kewajiban pokok atau bunga, maka investor merugi.

Tapi, risiko gagal bayar ORI tidak ada karena  berdasarkan Undang-Undang Surat Utang Negara (SUN) negara menjamin pembayaran kupon dan pokok Surat Utang Negara, termasuk ORI sampai dengan jatuh tempo, yang  dananya disediakan dalam APBN setiap tahunnya. Jadi boleh dikatakan jaminan ORI adalah negara RI.

#2 Risiko Pasar

Banyak yang berpikir bahwa ORI itu tanpa risiko. Betul untuk risiko gagal bayar, tapi tidak untuk risiko pasar.

Risiko pasar (market risk) adalah potensi kerugian bagi investor apabila terjadi penurunan harga ORI di pasar sekunder.

Kerugian (capital loss) dapat terjadi apabila investor menjual ORI di pasar sekunder sebelum jatuh tempo pada harga jual yang lebih rendah dari harga belinya. Namun, risiko pasar ini dapat dihindari apabila pembeli di pasar perdana tidak menjual sampai dengan jatuh tempo dan hanya menjual jika harga jual (pasar) lebih tinggi daripada harga beli setelah dikurangi biaya transaksi.

Pada saat harga pasar turun, Pemilik ORI tetap mendapat kupon setiap bulan sampai jatuh tempo. Pemilik ORI tetap menerima pelunasan pokok sebesar 100% (seratus persen) ketika ORI jatuh tempo.

#3 Risiko Likuiditas

Risiko likuiditas (liquidity risk), adalah potensi kerugian apabila sebelum jatuh  tempo investor yang memerlukan dana tunai mengalami kesulitan dalam menjual ORI di pasar sekunder pada tingkat harga (pasar) yang wajar.

Apabila Pemilik ORI membutuhkan dana, ORI dapat dijadikan sebagai jaminan dalam pengajuan pinjaman ke bank umum, lembaga keuangan lainnya, atau sebagai jaminan dalam transaksi efek di pasar modal, atau menjualnya kepada Agen Penjual.

ORI untuk Siapa ?

ORI sepertinya adalah investasi yang menarik karena return relatif lebih baik dan risiko yang sangat rendah. Tapi apakah itu berarti ini instrumen yang cocok untuk semua orang? Tidak.

Kembali lagi, semua investasi harus disesuaikan dengan tujuannya. Harus sesuai antara tujuan dan instrumen yang dipilih.

Saya mencatat ORI tidak cocok untuk tujuan sbb:

Pertama, tujuan keuangan yang membutuhkan kenaikkan return diatas kupon ORI, misalnya dana pendidikan. Dana pendidikan naik setahunnya mencapai 15 sd 20%.

Jika menggunakan ORI akan sulit mencapai target tersebut karena return ORI nett pajak tidak sampai 10%. Jika ingin tetap menggunakan ORI, jumlah dana yang diinvestasikan harus berlipat ganda supaya bisa mengejar kenaikkan biaya tinggi tadi.

Kedua, tujuan keuangan yang jangka waktunya diatas 5 tahun. Misalnya, dana pensiun yang masih dibutuhkan 15 atau 20 tahun lagi. Dengan jangka waktu yang panjang, lebih baik memilih instrumen yang risikonya lebih tinggi tapi memberikan return lebih besar, misalnya Saham atau Reksadana Saham.

Instrumen beresiko tinggi ini cenderung akan menurun tingkat risikonya dengan semakin panjang jangka waktu investasi. Saham adalah instrumen investasi jangka panjang.

Investasi vs. Trading

Dalam investasi ORI, pemilik bisa punya dua pilihan, yaitu (1) memegang sampai jatuh tempo atau (2) berspekulasi dengan trading (jual beli) di pasar sekunder.

Investor harus paham keuntungan dan risiko di kedua pilihan tersebut.

Jika pilih memegang ORI sampai jatuh tempo, return sudah pasti dan risiko pasar tidak ada karena kupon yang diterima fixed apapun kondisi pasar. Namun, pemilik harus siap berinvestasi selama 4 sd 5 tahun (tergantung jangka waktu ORI).  Ini cocok buat investor yang memang membeli ORI untuk tujuan investasi dalam jangka waktu tertentu.

Jika tidak siap uangnya mengendap selama 5 tahun, sebaiknya jangan bermain ORI. Kecuali, siap masuk ke pasar sekunder, supaya bisa mencairkan sebelumk jatuh tempo. Tapi, pasar sekunder punya profil risiko yang berbeda dengan  pasar primer.

Jika ingin trading  di pasar sekunder, investor harus siap dengan pengetahuan dan kemampuan mengamati pasar obligasi. Bagaimana harga di pasar obligasi dibentuk, faktor- faktor yang mempengaruhinya, dan cara perhitungan yield, itu semua perlu dipahami dengan baik – baik, supaya risikonya bisa dievaluasi dengan akurat.

Pasar sekunder itu menarik karena harga berfluktuasi tapi risikonya juga lebih tinggi, seiring dengan pergerakkan bunga pasar (yang mempengaruhi harga pasar ORI) yang tidak mudah diprediksi arahnya.

Saya tidak anti bermain trading di pasar sekunder. Tapi saran saya,  harus paham risikonya sebelum mulai.

Jangan sampai, masuk ke pasar sekunder, tapi tidak paham seluk beluknya. Akibatnya malah menangguk rugi.

asuransi

Kesimpulan

ORI adalah investasi yang menarik karena menawarkan return diatas inflasi dengan risiko yang kecil sekali. Tapi, tidak semua cocok berinvestasi di obligasi negara ini. Sebelum terjun, pastikan tujuan investasi bisa diwujudkan dengan ORI. Jangan hanya ikut-ikutan.

Berinvestasi di obligasi negara ini bisa dilakukan dengan cara memegang sampai jatuh tempo atau jual beli  di pasar sekunder. Dua – duanya punya plus dan minus. Pastikan mengerti risikonya sebelum mencobanya.

3 Responses

  1. Diana Putri

    Thanks atas informasinya, bermanfaat sebagai tambahan informasi dan pengetahuan bagi yang membacanya.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.