Dana Pensiun di Tempat Bekerja, Apa Wajib Diperhatikan

  • November 10, 2013

Salah satu sumber utama penghasilan , yang diandalkan banyak orang, ketika pensiun tiba adalah Dana Pensiun dari tempat bekerja. Hanya saja, saya melihat, banyak yang tidak paham bagaimana mengelola dana pensiun dengan benar. Bahkan, tidak sedikit yang cuek, tidak ambil pusing soal bagaimana mengelola dana pensiun, karena berpikir perusahaan sudah mengurusnya – padahal sama sekali tidak, hasil dana pensiun adalah tanggung jawab karyawan sepenuhnya. 

Akibatnya, hasil dana pensiun menjadi tidak optimal. Muncul risiko simpanan untuk masa tua tidak cukup ketika masa pensiun tiba.

Sebagian besar perusahaan saat ini sudah menyediakan fasilitas pensiun sebagai bagian dari paket kompensasi.

Program yang umum diterapkan adalah Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). Program ini dikenal sebagai iuran pasti.

Setiap bulan, iuran yang berasal dari potongan gaji karyawan dan kontribusi perusahaan akan disetorkan kepada DPLK untuk dikelola dalam bentuk investasi, yang hasilnya nanti bisa diambil saat masa pensiun tiba.

Disebut iuran pasti karena yang pasti adalah iurannya, sementara jumlah dana pensiunnya nanti tidak pasti, tergantung dari kinerja investasi dimana dana pensiun dialokasikan.

Program dana pensiun iuran pasti ini memiliki implikasi yang wajib dipahami oleh peserta.

  1. Perusahaan tidak menjamin berapa hasil dana pensiun yang akan diterima nantinya.Yang dijamin perusahaan adalah jumlah kontribusi yang akan diberikan setiap bulan kepada dana pensiun. Biasanya, jumlah kontribusi ditetapkan dalam kontrak kerja.
  2. Karena perusahaan tidak menjamin, siapa yang menjamin hasil dana pensiun ? Ya Anda sendiri. Jumlah dana yang akan diterima saat pensiun akan sangat ditentukan oleh kinerja investasi yang Anda pilih untuk mengelola dana tersebut. Jika investasi yang dipilih tepat, hasilnya akan bagus. Sebaliknya, jika investasi yang dipilih salah, hasilnya akan merugikan.

Keputusan investasi ditentukan sepenuhnya oleh karyawan. Perusahaan pada dasarnya tidak bertanggung jawab. Kalau pun perusahaan ikut berperan, sebatas memberikan saran (biasanya dalam bentuk default pilihan investasi), namun hasilnya tetap tanggung jawab karyawan sendiri.

Jadi pemahaman yang salah, jika ada karyawan yang tidak peduli bagaimana perkembangan investasi dana pensiun di tempat kerja. Tidak ada pihak lain di perusahaan yang memperhatikannya, selain karyawan sendiri (baca Manajemen Keuangan Kelas Menengah di Indonesia yang mengkhawatirkan di artikel ini).

Oleh karena itu, saya sangat menyarankan para karyawan untuk perhatian dan mencermati dana pensiun di tempat kerja.

Beberapa hal yang menjadi catatan, yaitu:

1. Wajib Ikut Dana Pensiun

Saya pernah mendengar teman yang memilih tidak ikut dana pensiun dari kantor karena enggan gajinya dipotong setiap bulan.

Menurut saya, teman ini menolak rejeki. Kenapa? Kalau tidak ikut, perusahaan tidak perlu memberikan kontribusi ke dana pensiun. Artinya, karyawan kehilangan tambahan penghasilan yang diberikan oleh perusahaan lewat iuran dana pensiun.

Tidak jarang di beberapa perusahaan yang baik kompensasinya, jumlah iuran perusahaan lebih tinggi dari iuran karyawan. Dalam situasi ini, betapa lebih ruginya karyawan yang tidak ikut program dana pensiun kantor.

Karena itu, Anda wajib memastikan sudah tercatat dalam program dana pensiun yang diadakan oleh perusahaan tempat bekerja.

2. Minta Kontribusi Perusahaan

Ketika negosiasi kompensasi saat proses rekruitmen, umumnya orang fokus pada berapa gaji yang akan diterima.

Menurut saya, jangan hanya terpaku pada gaji saja, tetapi perhitungkan juga berapa kontribusi iuran dana pensiun yang akan diberikan oleh perusahaan.

Iuran dari perusahaan ini esensinya adalah gaji juga, tetapi diberikan dalam bentuk dana pensiun. Jangan silap oleh gaji semata ketika negosiasi pindah kerja. Lihat penawaran dari sisi total kompensasi, termasuk berapa besar kontribusi dana pensiun yang diterima.

3. Investasikan di Saham

Seperti disebutkan diatas bahwa kinerja investasi sangat kritikal dalam jenis dana pensiun iuran pasti, yang mayoritas diikuti oleh karyawan saat ini. Kinerja amat ditentukan oleh tujuan investasi.

Sayangnya, saya melihat banyak yang melakukan kesalahan dalam penempatan investasi.

Dengan alasan takut nilai dana pensiun merosot, karyawan memilih penempatan yang dianggap paling aman, yaitu di pendapatan tetap, atau bahkan pasar uang. Saham dihindari karena dianggap paling beresiko.

Ini pilihan yang salah karena dua alasan.

Pertama, tingkat keuntungan pendapatan tetap atau pasar uang tidak mencukupi untuk mengalahkan laju inflasi. Lihat berapa persen tingkat keuntungan pendapatan tetap dan pasar uang, bandingkan dengan inflasi yang sekitar 6%-an setahun.

Hitungan saya, imbal hasil pendapatan tetap lebih kecil dari inflasi. Alhasil, dana pensiun menghadapi risiko bahwa jumlahnya kurang saat pensiun nanti untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Kedua, saham yang menawarkan tingkat keuntungan paling tinggi diantara semua pilihan investasi, justru tidak dipilih. Saham rata – rata menawarkan tingkat keuntungan 25% per tahun, jauh diatas kenaikkan biaya hidup (inflasi). Artinya, imbal hasil saham akan lebih dari cukup untuk menutupi kenaikkan biaya hidup.

Lho, bukannya risiko saham paling tinggi?

Betul bahwa saham risikonya paling tinggi. Namun, perlu dipahami bahwa risiko itu menurun seiring waktu. Apa artinya? Dalam jangka panjang, risiko saham cukup rendah. Waktu adalah your best friend dalam investasi saham.

Simak artikel soal gejolak ekonomi yang menunjukkan bagaimana harga saham anjlok drastis saat krisis ekonomi tahun 1998 dan 2008. Namun dalam jangka waktu 2 tahun, harga saham sudah kembali ke tingkat sebelum krisis, bahkan setelah itu naik lebih tinggi dibandingkan sebelum krisis.

Nah, investasi dana pensiun kan untuk jangka panjang. Paling tidak Anda sudah mempersiapkan dana pensiun dalam rentang 5 sampai dengan 10 tahun sebelum masa pensiun. Itu rentang waktu yang cukup untuk melakukan investasi saham dengan risiko yang terkendali.  Makin panjang dari masa pensiun makin baik.

Kesimpulannya, segera pindahkan tujuan investasi dana pensiun ke 100% saham.

4. Hati – Hati Pilihan Perusahaan

Maksud perusahaan baik, supaya karyawannya tidak repot – repot, mereka sudah memilihkan kemana tujuan investasi dana pensiun (default choices).

Namun, perusahaan umumnya menempatkan pada instrumen pendapatan tetap atau pasar uang, yang seperti kita sudah bahas sebelumnya, punya risiko hasilnya tidak cukup untuk kebutuhan hidup di masa depan.

Repotnya, pilihan perusahaan ini menjadi default, artinya jika Anda tidak meminta perubahan, maka pilihan ini yang digunakan pengelola dana pensiun untuk menempatkan uang Anda. Oleh karena itu, jangan diam saja.

Anda perlu melihat dan melakukan perubahan tujuan investasi dana pensiun sesuai keyakinan.

Be proactive.

5. Resign, Dana Pensiun Pindahkan

Banyak yang lupa punya dana pensiun. Ketika berhenti bekerja, dana pensiun tidak diurus.

Sebetulnya, ada dua cara yang bisa dilakukan.

Pertama, memindahkan dana pensiun lama ke dana pensiun perusahaan yang baru.  Kedua, melanjutkan dana pensiun, namun statusnya dirubah menjadi dana pensiun atas nama pribadi. 

Kedua pilihan ini prosesnya mudah. Anda tinggal datang ke customer service mengutarakan salah satu pilihan tersebut, nanti akan ada dokumen – dokumen yang perlu diisi.

6. Jangan Menarik Dana Pensiun

Meskipun kebijakan memperbolehkan peserta mengambil dana hasil pengembangan (tidak boleh mengambil iuran) setelah beberapa saat, namun saya sangat menyarankan tidak melakukan hal tersebut. Ini adalah dana pensiun, gunakanlah untuk masa tua nanti.

Demikian soal bagaimana merawat dan mengelola dana pensiun yang Anda miliki dari tempat bekerja. Jangan sampai sudah bekerja keras tetapi lupa atau tidak peduli mengurus dana pensiun , sehingga hasilnya tidak optimal. Saat masa tua baru menyesal, kok uang dari pensiun tidak cukup untuk hidup.

Baca tulisan investasi: Investasi Paling Aman dengan Untung Tinggi diatas Deposito, Investasi Reksadana Mulai 100rb, dan Gratis Bahan Kursus Reksadana.

GRATIS E-Book Panduan Investasi

2 Responses

  1. Sisada

    Terimakasih penjelasannya. Di blog nya pak Rudiyanto (kontan) ada dibahas mengenai perbandingan dana pensiun dengan DPLK vs Reksadana (kelebihan dan kekurangan masing2). Poinnya adalah, program JHT yg disediakan perusahaan pada umumnya masih kurang untuk dijadikan sebagai dana pensiun. Oleh sebab itu perlu program pensiun tambahan. Kalau ingin hasil optimal, pengelolaan dana pensiun dengan reksadana mungkin bisa dipertimbangkan.

    Reply
  2. 4 Kesalahan Ketika Memilih Asuransi Jiwa

    […] Menurut survei Manulife Investor Sentiment Index, jumlah masyarakat Indonesia yang memiliki program dana pensiun masih amat minim. Meskipun mengandalkan pensiun dari kantor, jumlahnya belum memadai. Penjelasan lebih lengkap di kenapa dana pensiun kantor itu tidak memadai. […]

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.